dimanche 5 février 2012

Quotes atau...

Tadi pas buka Twitter, liat ini:
"Your smile. Your eyes. Your lips. Your hair. Your laugh. Your hands. Your smirk. Your humor. Your weird faces. RT if you thought of someone."
Dan malah kepikiran mantan.

Kenapa? Gue juga gak tau. Bukan orang yang ada di post sebelum ini. Terus setelah gue pikir-pikir lagi... Emang dia nggak pernah muncul di pikiran gue secara tiba-tiba. Nggak pernah mimpiin dia, dan itu berarti emang dia nggak pernah gue pikirin (?).

Gue sayang sama dia, ya. Gue cinta sama dia, ya. Gue sayang sama dia... Sebagai keluarga. Nggak lebih dan nggak kurang. Tapi kenapa kita malah 'berubah' jadi kayak gini, gue nggak tau. Terlalu mendadak. Terlalu tiba-tiba.

Kenapa gue masih tetep ngeladenin sms, chatnya dia yang 'nyeleneh'... ya karena gue emang suka dengan perhatiannya yang kayak gitu. Kangen sama perasaan adanya relationship. Kangen ada yang ngingetin makan. Kangen ada yang perhatian disaat gue lagi sibuk-sibuknya sampai lupa diri sendiri. Kangen ada yang ngajarin pelajaran yang susah. Kangen ada yang ngingetin buat belajar tiap malem. Kangen ada yang dengan getolnya nyuruh gue tidur dibanding begadang pas jam 10 malam karena besoknya sekolah.

Tapi ya... cuma itu. Nggak ada lagi.

Kalau ditanya soal mantan... Apa gue masih suka kepo? Ya. Masih sering nge-stalk, ya. Tapi I've learned not to jealous, ketika dia emang udah 'menemukan' pengganti gue. Udah masa bodohlah sama apa yang mereka lakuin sekarang. Udah berusaha ngelupain semua yang pernah terjadi. Ngelupain feel pacaran sama dia. Ngelupain semua feeling yang dulu pernah ada. Berusaha buat bersikap netral sama dia. Udah berusaha untuk nggak rely on him anymore. Berusaha buat jadi independent juga.

Tapi kalau ditanya... Apa gue udah bener-bener ngelupain semuanya? Mungkin ya dan nggak... Gue udah nggak jealous. Gue udah nggak merasakan -apa pun itu- ketika ketemu langsung sama dia. Tapi gue juga masih inget saat-saat dimana kita bareng. Inget apa yang biasanya kita lakuin berdua. Masih suka ngerasa 'kosong' saat nonton film atau ke toko buku sendirian. Masih ada rasa dagdigdug ketakutan kalau buka TL dia, walaupun udah nggak separah dulu.

Dan kalau ditanya apa gue masih sayang apa nggak... Terus terang gue nggak tau. Kadang rasanya pingin deket, tapi pingin juga tendang dia jauh ke seberang lautan. Perasaan dulu jadi adik.. terus pacar.. terus adik lagi juga kadang masih ngebayang walau langsung ditepis jauh-jauh. Maybe I'm in a trance that makes me don't want to feel any emotions for him. Karena rasanya... jujur aja, capek.

Kalau ditanya mau move on, ya. Maulah. Tapi jelas juga nggak bisa buru-buru... Dia akan dateng ketika kita udah siap, bukan ketika kita lagi berharap. Dan gue rasa gue lagi nggak ada di tempat 'siap' tersebut. Gue lagi berusaha mandiri. Lagi berusaha nggak bergantung sama orang lain dan fokus sama studi.

And yet, tomorrow is our HFA.

And my wish is, let me and him take our own way. Kalau emang jalannya bareng ya bakal bareng akhirnya. Kalau nggak, ya tolong aja pisahin jalur kita jauh-jauh supaya nggak melenceng ;). Semoga gue dan dia bisa bener-bener nemu pengganti satu sama lain, yang jelas JAUH lebih baik dari gue atau dia. I'll find someone better than him, but I wish nothing but the best for himself too.

Nah, now I found the answer.
This is my time when I can look at him happy with someone else without my eyes getting a little teary :))

samedi 4 février 2012

Maunya yang pasti. Tapi...

Kalau kata Mario Teguh: perempuan itu suka yang pasti-pasti.

Temen gue sempet ada yang ngegalau gitu dan cerita di gue, dan dia bilang kalau dia (mungkin) terlalu banyak berharap sama orang yang dia suka tersebut, tapi ternyata (mungkin) cewek itu nggak suka sama dia. Php detected.

Setelah lama gue pikir... Kenapa temen gue itu nggak ngasih kepastian aja ke gebetannya itu? Gebetan itu juga masih single kan. Dan HTS itu udah jelas gak enak. True story, bro *cheers*.

Tapi setelah gue pikir lagi, dan gue bandingin ke kehidupan gue...

Ini percakapan gue vs. gue:
TG: Ya blablablablabla....... *cerita*
G: Cari yang pastilah
TG: Lo sendiri? Sama gebetan lo?
G: Gue... Udah pasti kok.

This guy... I know that he loved me and such things, and I missed him as much. Literally, gue sama dia udah kayak kakak-adik (precisely kayak yang dulu gue jalanin sama mantan gue, suck story. You won't love it). Gue sama dia udah kayak pacaran. Dan gue tau, gue sama dia pasti kok.

Pasti gue sama dia nggak akan bareng. Gak akan bisa jadi satu.

Dari awal gue ngejalanin hubungan kayak gini sama dia... tau gue dan dia nggak akan jadi seperti yang orang lain pikir.... Gue masih mau nerusin ke-nggak-jelas-an ini. I admit, I really miss this kind of stuffs. Affection. Sympathy. Concern. Patience. Rasanya kehilangan banget setelah kurang lebih 4 bulan kali ya nggak nerima goodnight text and I miss you's stuff.

Bukan berarti gue mengekang dia dalam sebuah gue-nggak-tau-jelasnya-apa-hubungan-ini, gue dan dia masih bebas sebebas-bebasnya. Dia bodo amat kalau gue flirting sama cowok lain. Dan gue juga bodo amat kalau dia mau jungkir balik sama cewek lain atau jadian atau nikah (yang gue tau untuk hal yang terakhir jelas nggak akan terjadi dalam waktu dekat ini). Tapi yang jelas, gue (dan dia juga, tentunya) bakal nggak bodo amat kalau diantara kita ada yang sakit hati. I'm sure he'll kick someone ass if that someone makes me unhappy and I'll happily slap that biatch if she make him down.

But is it normal? I dunno. But what I thought is... I'll do anything I love, and I do love what I love.